Misteri Orang Jawa Dilarang Keras Tertawa Lebar


Misteri Orang Jawa Dilarang Keras Tertawa Lebar

Kenapa orang jawa itu jika tertawa tidak boleh lebar-lebar dan paling cuma tersenyum aja. Tentu hal ini ada sebab-musababnya sehingga diwasiatkan turun temurun, apalagi di kalangan kraton. Mungkin generasi muda sekarang tidak pernah memikirkan hal ini, akan tetapi sudah merupakan kebiasaan umum dalam tradisi Jawa bahwa tertawa itu boleh, akan tetapi disarankan jangan terlalu lebar, apalagi terbahak-bahak. Hal itu akan membuat “saru” atau malah menimbulkan suatu bencana.

Konon, pada jaman wayang kulit masih menguasai tanah jawa, para dedemit merajai hutan-hutan belantara kita, para begal menguasai jalan2 Jawadwipa, ada seorang raja besar bernama Prabu Niwatakawaca dari negara Manik Mantaka.Prabu Niwatakawaca ini begitu saktinya sehingga para raja di Marcapada sangat takut kepadanya, demikian juga para Dewa yang juga juga takut pada kesaktiannya, sehingga apa yang diminta harus dikabulkan.

Prabu Niwatakawaca mempunyai wewenang tak terbatas dimana semua kekuasaan ada ditangannya bersama para kroninya. Kita tahu tidak ada seorangpun di Negara Manikmantaka yang berani protes, apalagi menentang kebijakannya. Jangankan rakyat, KPK negara Manikmantaka aja tidak berani untuk mengungkap apapun bobroknya sang raja. Dalam hal kekayaan pribadi, Prabu Niwatakawaca begitu kaya raya, bisnisnya merambah dimana-mana, mau ngomong proyek banyak, ngomong bisnis (banyak dikelola keluarga dan teman-temannya), mau minta mercy ada, wah pokoknya lengkap.

Namun, yang namanya kekuasaan semakin besar semakin kurang saja kebutuhannya. Setelah tidak menemukan lawan tanding yang sepadan di Marcapada, Prabu Niwatakawaca kemudian menyerang Kahyangan untuk meminta suatu yang mustahil dipenuhi, yaitu mempersunting Dewi Supraba, bidadari putri Batara Indra. Batara indra sendiri takut jika permintaan raja raksasa ini ditolak, akan berakibat hancurnya Kahyangan. Oleh karena itu rapat para Dewa memutuskan untuk mengulur waktu, persis seperti agustusan dalam lomba tarik tambang.

Alhasil Batara Guru sebagai rajanya para Dewa memerintahkan Betara Indra untuk meminta pada Arjuna melawan Prabu Niwatakawaca. Arjuna yang waktu itu sedang bertapa, langsung menyanggupi permintaan ini, apalagi jika menang akan dinikahkan dengan bidadari Dewi Supraba. Hal ini menjadikan semangat Arjuna semakin berkobar.

Mendengar para Dewa punya jago baru, Prabu Niwatakawaca langsung menyerang Kahyangan. Semua pasukannya disiapkan, sampai-sampai jalanan menuju Kahyangan penuh sesak oleh tentara Manikmantaka yang rata-rata raksasa itu berjalan seenaknya. Mereka tidak mengenal rambu-rambu lalu lintas, Ada yang tidak pakai baju, tidak pakai sepatu dan tidak ada kedisiplinan dalam pasukannya. Namun mereka semua bersemangat karena diming-imngi bidadari cantik di Kahyangan.

Dalam perang itu senjata seperti panah, tombak maupun pedang berseliweran. Prajurit menghadapi prajurit, perwira menghadapi perwira, demikian pula Arjuna harus menghadapi Prabu Niwatakawaca. Dalam perang tanding tersebut, raja raksasa ini memang kebal terhadap segala macam senjata. Arjuna sudah mengeluarkan segala macam kesaktian dan senjatanya. Keris pusaka sudah ditusukkan, tombak sudah dilemparkan bahkan panah sudah dihamburkan, namun tidak satupun senjata tersebut melukainya.

Pada puncak peperangan Prabu Niwatakawaca kemudian mengeluarkan panah saktinya sehingga menyebabkan Arjuna terkapar tak berkutik. Prabu Niwatakawaca kemudian menghampri Arjuna untuk menusuknya dengan tombak, namun Dewi Supraba kemudian menangis, menahan dan supaya melupakan Arjuna yang sudah dianggap tak berdaya. Sang Dewi kemudian merayu Sang Prabu dan kemudian memujinya setinggi langit, sampai-sampai sang Prabu menceritakan bahwa tidak akan ada senjata yang sanggup melukainya asalkan semua itu tidak mengenai kelemahannya yaitu diujung lidahnya. Mendengar ini Dewi Supraba tambah merayu dan memuji sehingga Sang Prabu tertawa terbahak-bahak.

Dibalik rayuannya Dewi Supraba juga memberi isyarat pada Arjuna tentang kelemahan raja raksasa ini sehingga dalam waktu sekejab meluncurkan panah sakti “sarotama” pemberian Betara guru dan tepat mengenai lidah Prabu NiwataKawaca, sehingga raja raksasa ini roboh tak berdaya.

Nah, dari cerita ini dapat dipahami bahwa orag Jawa itu takut tertawa lebar-lebar, paling2 cuma senyum-senyum karena menjaga supaya lidah tidak diketahui orang lain yang merupakan kelemahan manusia. Akan tetapi jika sudah menghadapi rayuan wanita cantik seperti Dewi Supraba, apakah lidah orang Jawa itu masih bisa disimpan rapat-rapat atau malah tertawa cekikikan?. Wah, kalau yang satu ini, lain lagi ceritanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s