BOD DAN COD SEBAGAI PARAMETER PENCEMARAN AIR DAN BAKU MUTU AIR LIMBAH (BOD and COD AS A PARAMETER WATER POLLUTION AND WASTE WATER QUALITY STANDARDS)


BOD DAN COD SEBAGAI PARAMETER PENCEMARAN AIR DAN BAKU MUTU AIR LIMBAH 

(BOD and COD AS A PARAMETER WATER POLLUTION AND WASTE WATER QUALITY STANDARDS)



Dalam kasus-kasus pencemaran perairan, baik itu laut, sungai, danau

 

maupun waduk, seringkali diberitakan bahwa nilai BOD dan COD perairan telah

 

melebihi baku mutu. Atau sebaliknya, pada kasus pencemaran lainnya yang

mendapat protes dari masyarakat sehubungan dengan adanya limbah industri,

ditanggapi dengan dalih bahwa nilai BOD dan COD perairan masih memenuhi

baku mutu. Dalam salah satu harian (Kompas edisi Senin, 12 Desember 1994)

juga terdapat suatu berita dengan judul “Sebaiknya, parameter BOD dan COD

tak dipakai penentu baku mutu limbah” yang kurang lebih merupakan pendapat

dari salah satu pakar bioremediasi lingkungan dari Universitas Sriwijaya,

Palembang. Menurut pakar tersebut, dalam banyak kasus kesimpulan yang

hanya didasarkan pada hasil analisis BOD dan COD (juga pH) belum merupakan

jawaban ada tidaknya pencemaran lingkungan oleh suatu industri. Di sisi lain,

BOD dan COD adalah parameter yang menjadi baku mutu berbagai air limbah

industri selain beberapa parameter kunci lainnya. Nampaknya terdapat

persepsi pada sementara kalangan yang menempatkan BOD dan COD agak

berlebihan dari yang seharusnya.


Sehubungan dengan hal tersebut, dalam tulisan ini akan dikaji apa itu

sebenarnya BOD dan COD, bagaimana cara atau prinsip pengukurannya, dan

apakah memang sebaiknya tidak dipakai sebagai penentu baku mutu air limbah.


Pengertian BOD dan COD


BOD atau Biochemical Oxygen Demand adalah suatu karakteristik yang

menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang diperlukan oleh mikroorganisme

(biasanya bakteri) untuk mengurai atau mendekomposisi bahan organik dalam

kondisi aerobik (Umaly dan Cuvin, 1988; Metcalf & Eddy, 1991). Ditegaskan

lagi oleh Boyd (1990), bahwa bahan organik yang terdekomposisi dalam BOD

adalah bahan organik yang siap terdekomposisi (readily decomposable organic

matter). Mays (1996) mengartikan BOD sebagai suatu ukuran jumlah oksigen

yang digunakan oleh populasi mikroba yang terkandung dalam perairan sebagai

respon terhadap masuknya bahan organik yang dapat diurai. Dari pengertianpengertian

ini dapat dikatakan bahwa walaupun nilai BOD menyatakan jumlah

oksigen, tetapi untuk mudahnya dapat juga diartikan sebagai gambaran jumlah

bahan organik mudah urai (biodegradable organics) yang ada di perairan.

Sedangkan COD atau Chemical Oxygen Demand adalah jumlah oksigen

yang diperlukan untuk mengurai seluruh bahan organik yang terkandung dalam

air (Boyd, 1990). Hal ini karena bahan organik yang ada sengaja diurai secara

kimia dengan menggunakan oksidator kuat kalium bikromat pada kondisi asam

dan panas dengan katalisator perak sulfat (Boyd, 1990; Metcalf & Eddy, 1991),

sehingga segala macam bahan organik, baik yang mudah urai maupun yang

kompleks dan sulit urai, akan teroksidasi. Dengan demikian, selisih nilai antara

COD dan BOD memberikan gambaran besarnya bahan organik yang sulit urai

yang ada di perairan. Bisa saja nilai BOD sama dengan COD, tetapi BOD tidak

bisa lebih besar dari COD. Jadi COD menggambarkan jumlah total bahan

organik yang ada.


Metode pengukuran BOD dan COD

Prinsip pengukuran BOD pada dasarnya cukup sederhana, yaitu mengukur

kandungan oksigen terlarut awal (DOi) dari sampel segera setelah pengambilan

contoh, kemudian mengukur kandungan oksigen terlarut pada sampel yang

telah diinkubasi selama 5 hari pada kondisi gelap dan suhu tetap (20 oC) yang

sering disebut dengan DO5. Selisih DOi dan DO5 (DOi – DO5) merupakan nilai

BOD yang dinyatakan dalam miligram oksigen per liter (mg/L). Pengukuran

oksigen dapat dilakukan secara analitik dengan cara titrasi (metode Winkler,

iodometri) atau dengan menggunakan alat yang disebut DO meter yang

dilengkapi dengan probe khusus. Jadi pada prinsipnya dalam kondisi gelap,

agar tidak terjadi proses fotosintesis yang menghasilkan oksigen, dan dalam

suhu yang tetap selama lima hari, diharapkan hanya terjadi proses dekomposisi

oleh mikroorganime, sehingga yang terjadi hanyalah penggunaan oksigen, dan

oksigen tersisa ditera sebagai DO5. Yang penting diperhatikan dalam hal ini

adalah mengupayakan agar masih ada oksigen tersisa pada pengamatan hari

kelima sehingga DO5 tidak nol. Bila DO5 nol maka nilai BOD tidak dapat

ditentukan.


Pada prakteknya, pengukuran BOD memerlukan kecermatan tertentu

mengingat kondisi sampel atau perairan yang sangat bervariasi, sehingga

kemungkinan diperlukan penetralan pH, pengenceran, aerasi, atau

penambahan populasi bakteri. Pengenceran dan/atau aerasi diperlukan agar

masih cukup tersisa oksigen pada hari kelima. Secara rinci metode pengukuran

BOD diuraikan dalam APHA (1989), Umaly dan Cuvin, 1988; Metcalf & Eddy,

1991) atau referensi mengenai analisis air lainnya.


Karena melibatkan mikroorganisme (bakteri) sebagai pengurai bahan

organik, maka analisis BOD memang cukup memerlukan waktu. Oksidasi

biokimia adalah proses yang lambat. Dalam waktu 20 hari, oksidasi bahan

organik karbon mencapai 95 – 99 %, dan dalam waktu 5 hari sekitar 60 – 70 %

bahan organik telah terdekomposisi (Metcalf & Eddy, 1991). Lima hari inkubasi

adalah kesepakatan umum dalam penentuan BOD. Bisa saja BOD ditentukan

dengan menggunakan waktu inkubasi yang berbeda, asalkan dengan menyebut4

kan lama waktu tersebut dalam nilai yang dilaporkan (misal BOD7, BOD10) agar

tidak salah dalam interpretasi atau memperbandingkan. Temperatur 20 oC

dalam inkubasi juga merupakan temperatur standard. Temperatur 20 oC adalah

nilai rata-rata temperatur sungai beraliran lambat di daerah beriklim sedang

(Metcalf & Eddy, 1991) dimana teori BOD ini berasal. Untuk daerah tropik

seperti Indonesia, bisa jadi temperatur inkubasi ini tidaklah tepat. Temperatur

perairan tropik umumnya berkisar antara 25 – 30 oC, dengan temperatur

inkubasi yang relatif lebih rendah bisa jadi aktivitas bakteri pengurai juga lebih

rendah dan tidak optimal sebagaimana yang diharapkan. Ini adalah salah satu

kelemahan lain BOD selain waktu penentuan yang lama tersebut.

Metode pengukuran COD sedikit lebih kompleks, karena menggunakan

peralatan khusus reflux, penggunaan asam pekat, pemanasan, dan titrasi

(APHA, 1989, Umaly dan Cuvin, 1988).


Pada prinsipnya pengukuran COD adalah penambahan sejumlah tertentu kalium

bikromat (K2Cr2O7) sebagai oksidator pada sampel (dengan volume diketahui)

yang telah ditambahkan asam pekat dan katalis perak sulfat, kemudian

dipanaskan selama beberapa waktu. Selanjutnya, kelebihan kalium bikromat

ditera dengan cara titrasi. Dengan demikian kalium bikromat yang terpakai

untuk oksidasi bahan organik dalam sampel dapat dihitung dan nilai COD dapat

ditentukan. Kelemahannya, senyawa kompleks anorganik yang ada di perairan

yang dapat teroksidasi juga ikut dalam reaksi (De Santo, 1978), sehingga dalam

kasus-kasus tertentu nilai COD mungkin sedikit ‘over estimate’ untuk gambaran

kandungan bahan organik.


Bilamana nilai BOD baru dapat diketahui setelah waktu inkubasi lima

hari, maka nilai COD dapat segera diketahui setelah satu atau dua jam. Walaupun

jumlah total bahan organik dapat diketahui melalui COD dengan waktu

penentuan yang lebih cepat, nilai BOD masih tetap diperlukan. Dengan

mengetahui nilai BOD, akan diketahui proporsi jumlah bahan organik yang

mudah urai (biodegradable), dan ini akan memberikan gambaran jumlah

oksigen yang akan terpakai untuk dekomposisi di perairan dalam sepekan (lima hari) mendatang. Lalu dengan memperbandingkan nilai BOD terhadap COD

juga akan diketahui seberapa besar jumlah bahan-bahan organik yang lebih

persisten yang ada di perairan.

Pengukuran BOD dan COD

BOD (Biochemical Oxygen Demand) atau KOB (kebutuhan oksigen biokimiawi) adalah suatu pernyataan untuk menyatakan jumlah oksigen yang diperlukan untuk degradasi biologis dari senyawa organik dalam suatu sampel. Pengukuran BOD dengan sendirinya digunakan sebagai dasar untuk mendeteksi kemampuan senyawa organik dapat didegradasi (diurai) secara biologis dalam air. Perbedaan antara BOD dan COD (Chemical Oxygen Demand) adalah bahwa COD menunjukkan senyawa organik yang tidak dapat didegradasi secara biologis.

Secara analitis BOD (biochemical oxygen demand) adalah jumlah mg oksigen yang dibutuhkan untuk menguraikan zat organik secara biokimiawi dalam 1 liter air selama pengeraman 5 x 24 jam pada suhu 20o oC. Sedangkan COD (chemical oxygen demand) atau KOK (kebutuhan oksigen kimiawi) adalah jumlah (mg) oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasikan zat organik dalam 1 liter air dengan menggunakan oksidator kalium dikromat selama 2 jam pada suhu 150 oC.